Friday, October 21, 2005
...article about tie related to personality
Dasi Pria Dapat Mengungkap Kepribadiannya
Anda dapat membuka rahasia kepribadian pria dengan mempelajari dasi yang dipakainya, begitu menurut seorang ahli.
"Dasi merupakan bentuk ungkapan diri dari seorang pria. Dibanding semua pakaian pria, dasi dapat mengungkapkan paling banyak tentang emosi dan keadaan batin dari pria," kata Elayne Kahn, dalam buku yang ditulisnya '101 More Ways You Reveal Your Personality'.
Berikut, apa kata dasi favorit pria tentang kepribadiannya, menurut Dr. Kahn.
Dasi Garis-Garis
Corak garis-garis adalah corak konservatif, begitu juga pemakainya. Dia tidak bisa menerima ide baru dengan mudah. Ia termasuk jenis pria yang berkata, "Jangan perbaiki atau ubah sesuatu yang sudah berjalan baik." Dia adalah orang yang bertekad kuat dan sangat yakin dengan pendirian-pendiriannya.
Dasi Lencana
Pria yang memakai dasi dengan lencana dari sebuah organisasi atau klub senang terlibat dan bisa menjadi suami yang sayang keluarga. Ia juga selalu berpegang pada sesuatu yang sudah diyakininya dan adalah teman yang setia. Ia termasuk jenis pria yang membawa donat ke kantor untuk dimakan bersama-sama, kata Dr. Kahn. Dia juga sangat terbuka tentang perasaan-perasaannya dan menyukai lelucon yang menyenangkan.
Dasi Polos
Pria yang menyukai dasi polos satu warna adalah orang yang jujur total dan sangat teratur. Dia adalah si perunding ulung yang dengan mudah menyelesaikan pertengkaran dengan mengemukakan solusi yang membuat semua orang bahagia.
Dasi Corak Kembang
Jika anda melihat pria mengenakan dasi corak kembang berwarna cerah, bisa dipastikan, dia adalah pencinta pesta dan tak suka mengikuti aturan. Dia tidak peduli tampil beda. Bahkan kadang juga bisa bersikap kasar. Dan dia memerlukan kegembiraan dalam hidup.
Dasi Corak Polka Dot
Dasi corak polka dot menandakan pria cemerlang, berdaya cipta yang menyukai lelucon bermutu, dan membuat suasana ceria di semua tempat yang didatanginya. Ia juga penuh pengertian dan selalu menjaga perasaannya, kata Dr. Kahn. Dia juga pemain tim yang bekerja untuk kebaikan semua orang, bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Dasi Kupu
Pria yang mengenakan dasi kupu-kupu bersifat individual dan sangat bangga akan dirinya. Ia berpendirian keras tapi tidak suka memaksa. Dia kuno tapi bisa terbuka pada ide-ide baru. Dan dia senang tertawa.
Dasi Dengan Corak, Simbol, atau Gambar
Pria yang menyukai dasi warna-warni ini senang menonjol. Dia termasuk tipe kreatif yang menyukai musik dan seni. Dan dia mempunyai selera busana yang tinggi, yang ditunjukkannya dengan berbusana rapi.
Thursday, October 20, 2005
...article
Taken from http://www.kamus.web.id (October 20, 2005)
The Ten Habits of Highly Effective Speakers
"How to Give a Great Speech by Sandra SchriftThe Ten Habits of Highly Effective SpeakersSuccessful speakers do not do all the right things all the time. They often take risks and risk bombing. But all top speakers take daily action, to move towards their goals with many adjustments. Here are ten ways to be a highly effective speaker.
1. Have a passion for your subject(s).
If you don't care about your topic, who will? Make a list of five topics you love. Choose two and be willing to develop a program you are willing to stay with for at least two years.
2. Be persistent in your quest to be a speaker of excellence.
You must be perceived as an expert with expertise. Demonstrate this through your life experiences, research and the way you customize your material for each audience. You are only as good as your last speech!
3. Have the patience to succeed.
Is persistence your middle name? Don't expect to be a success over night. Get support, mentors, a coach to help you master your presentation(s). One speaker said, This is a hard business to make an easy living.
4. Speak from your heart.
Be authentic. Be vulnerable. Share your mishaps and idiosyncrasies. You won't be perceived as real until you do this. When you are truthful, your audiences will trust what you are saying. Let your message provide hope for your audience.
5. Connect quickly with your audience.
You only have 30 seconds to make your connection. So pay attention to your opening remarks. Don't use jokes they may offend people in your audience. Do use short quotations, a funny story that is relevant to your message, a question or two to get their attention quickly.
6. Prepare 24/7 you don't write speeches, you find them everywhere in hotels, from family experiences, in the supermarkets and restaurants. Retrieve them and retell them. Don't lose out on great material because you didn't have your note pad near you. Why not invest in a mini-tape recorder and record ideas as they occur throughout your day.
7. Speak to the ways people learn; auditory, visual and kinesthetic. Know your audience so that you can offer the right mix. Research suggests 40% are visual, 40% are kinesthetic, and only 20% are auditory. If you don't use props or visuals, you will not reach 80% of your audience. Be inclusive and find ways/tools that will speak to 100% of the people in your audience.
8. Support your main points with stories most people delineate their thoughts visually. People learn best from your personal stories. They will also do a better job in retaining your message if you tell them a story. Remember when you were a kid. . .you said to your parents, tell me a story. When an adult hears your story, they are only a step away from their own story. Become a good story teller and watch your referrals and repeat business increase.
9. Make it fun learning is directly proportional to the amount of fun your audience is having laughter is like internal jogging. Inject some humor along the way. The audience wants to lighten up even with serious matters.Reminder---mature adults do not take themselves too seriously.
10. Have a reverence for the work you do. It is a privilege to be on the platform. And with this comes an awesome responsibility to your audience.Speaking is an art and a skill. Tap in to your creativity, your wholesomeness, your playfulness. Live/speak from the inside out."
Wednesday, October 19, 2005
...quote from a friend's email
Mari kita buktikan :
1. "Balonku ada 5... rupa-rupa warnanya... merah, kuning, kelabu..merah muda dan biru..., meletus balon hijau, dorrrr!!!"
Perhatikan warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna hijau
Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 !
2. "Aku seorang kapiten... mempunyai pedang panjang... kalo berjalan prok..prok..prok... aku seorang kapiten!"
Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsis- tensi). Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi :
"mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)... kalo berjalan prok..prok..prok.."
nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi : "mempunyai pedang panjang... kalo ber- jalan ndul..gondal..gandul.. atau srek.. srek.. srek.." itu baru sesuai dg kondisi pedang panjangnya!
3. "Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku.."
Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu Ini membuat anak-anak tidak bias terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!
4. "Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X"
Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!
5. "Naik kereta api tut..tut..tut.. siapa hendak turut ke Bandung.. Surabaya.. bolehlah naik dengan naik percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama"
Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa Maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya!
6. "Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak jemu2.. mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li..li..li.."
Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit..cuit..! kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang, bukan burung!
7. "Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum susu.."
Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!
Tuesday, October 18, 2005
...quote from a newspaper
Pak Abu yang begitu miskin
( Arys Hilman )
Alkisah di sebuah sekolah dasar, tercatatlah seorang siswa kelas satu. Sebut namanya Bakar. Ia anak konglomerat ternama. Bukan cuma bapaknya yang pedagang besar. Kakek moyangnya pun demikian. Mereka adalah rezim saudagar terkenal sejak era abad pertengahan. Ketika Pires berkata," Tuhan menciptakan Timor untuk pala, Banda untuk lada, dan Maluku untuk cengkih," di sanalah kakek moyang Bakar berperan.
Bakar masih menikmati warisan kebesaran itu. Ia bersekolah di SD unggulan berstandar internasional dan bilingual, sekitar 2 kilometer dari rumah (mobil senilai Rp 1 miliar yang ia pakai hanya mencatatkan perjalanan 4 kilometer setiap hari). Seorang sopir dan "baby sitter" mengantar dan menungguinya setiap hari saat ia belajar.
Laiknya sekolah mahal dan unggulan lainnya, mengarang adalah pelajaran yang diposisikan amat penting di SD tersebut. Anak-anak didik, sejak kelas satu, sudah dilatih untuk mengekspresikan isi kepala mereka dengan kata-kata yang tertata baik, namun dengan isi yang mencerminkan kebebasan pikiran.
Sampailah, suatu ketika, sang guru meminta siswa kelas I membuat karangan tentang kehidupan keluarga yang sangat miskin di seberang benteng sekolah. Sang guru, yang berasal dari keluarga menengah, berharap dapat menumbuhkan empati anak-anak didiknya yang serba berada terhadap nasib kelompok lain yang tak berpunya. Bakar masih kelas satu SD. Tapi, ia penulis yang andal. Ia sefasih bapaknya saat harus melontarkan kata-kata. Ia pun secerdas ibunya saat harus membuat hitung-hitungan dan perbandingan.
Ia menulis, seperti saran gurunya, dengan penuh perasaan. "Menulislah dengan hati," begitu kata-kata sang guru yang selalu ia ingat. Lalu, dengan sesekali menerawang dan membayangkan kehidupan keluarga miskin, Bakar menggoreskan pinsilnya dengan huruf-huruf yang belum sempurna benar. Ia menamai tokoh dalam karangannya sebagai Pak Abu.
"Pak Abu," tulisnya," adalah orang yang sangat miskin. Benar-benar miskin, sampi-sampai pembantunya juga miskin, sopirnya miskin, dan tukang kebunnya pun miskin. "Karena sering tak punya uang, Pak Abu jarang membersihkan kolam renang di rumahnya. Ia juga hanya bisa memelihara ikan-ikan kecil di akuarium seperti lou han yang makannya sedikit, tidak seperti arwana dan koi di rumahku. Kucing siam punya Pak Abu juga kurus, soalnya kurang makan. Ayam yang ia pelihara juga yang kecil-kecil, jenis kate."
Bakar yang berpikir bebas menulis karangannya itu dengan penuh haru. Ia sesekali mengernyitkan dahi. Ia berpikir dirinya tak mungkin bisa menanggungkan kemiskinan seperti yang terjadi pada keluarga Pak Abu. Alangkah malangnya keluarga Pak Abu, pikirnya. Jangan-jangan anak-anaknya harus berebut saat bermain PS2, karena alat permainan itu hanya ada satu di ruang keluarga. Lain dengan di rumahnya, setiap kamar ada. Di kamar Bakar, di kamar kakak-kakaknya, bahkan di kamar ibu-bapaknya.
Sopir dan pembantu Pak Abu pun, pikirnya, pasti sedih karena tidak seperti pembantu dan sopir dirinya. Bakar membandingkan handphone yang dipegang sopir dan pembantu Pak Abu mungkin jenis monophonic yang ketinggalan zaman, lain dengan handphone pembantu dan sopirnya yang polyphonic dan bisa kirim MMS.
Ia membayangkan kepala urusan dapur di rumah Pak Abu mungkin hanya bisa belanja di pasar yang becek atau supermarket kecil di perempatan jalan. Padahal, pembantu di rumahnya sangat biasa berbelanja ke hypermarket Prancis dan mal-mal. " Anak-anak Pak Abu," tulisnya dengan empati penuh, "kalau liburan tidak bisa ke Eropa atau Amerika seperti aku. Mereka hanya bisa berlibur ke Bali. Itu pun pakai pesawat yang murah, low cost carrier."
Terserahlah, Pembaca, Anda mau bekomentar apa tentang cerita itu. Saya hanya mau menyampaikan sebuah kegagalan empati. Bukan karena orangnya tidak tulus, tapi ia memang tidak memiliki pengalaman yang memadai tentang dunia di luar dirinya. Bakar adalah wakil dari kegagalan itu.
Saya kembalikan kepada Anda kisah-kisah di luar. Saat seorang menteri berkata, "Kalau tidak mampu membeli elpiji, ya jangan gunakan elpiji," apa komentar Anda?
Bagi saya, itu adalah kegagalan empati. Mungkin karena sekadar kurangnya wawasan dia tentang penderitaan, mungkin juga karena kemalasan melihat dunia luar. Bayangkan setelah si menteri berkata seperti itu, harga minyak tanah melambung tiga kali lipat.
Kita tentu tak berharap pejabat itu akan berkata, "Kalau tidak mampu beli minyak tanah, jangan gunakan minyak tanah." Lalu, ketika harga beras melonjak sekian kali lipat, ia pun berpidato lagi, "Kalau tidak mampu beli beras, jangan makan nasi."
Empati adalah kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain. Di dalamnya tercakup kecerdasan emosional dan sosial. Nah, jika Anda berempati kepada orang miskin, maka Anda akan memerankan diri sepenuh perasaan sebagai orang miskin. Persoalannya, apa fantasme Anda tentang kemiskinan?
Penguasa kolonial mendefiniskan kemiskinan sebagai buah kemalasan. Saat mendengar kata 'miskin', mereka teringat pada kerbau yang hanya bergerak kalau dipacu dan lebih suka berkubang di lumpur hitam.
Pemerintah kita mendefinisikan kemiskinan sebagai hasil perhitungan dari sebuah nilai subsidi. Maka, ditemukanlah angka penghasilan Rp 175 ribu sebagai batas kemiskinan. Kurang dari angka itu berarti miskin dan berhak mendapat santunan Rp 100 ribu.Persoalannya, orang yang berpenghasilan di antara Rp 175 ribu dan Rp 275 ribu masuk kategori apa?
Tidak jelas, kecuali satu hal: Mereka kini menjadi penduduk termiskin di negeri ini.

